Selasa, 27 November 2012

makalah ejaan dan tanda baca



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

            Ejaan merupakan kaidah-kaidah atau cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf/serta penggunaan tanda baca).  
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional lahir pada awal tahun dua puluhan. Namun dari segi ejaan, bahasa indonesia sudah lama memiliki ejaan tersendiri.

Berdasarkan sejarah perkembangan ejaan, sudah mengalami perubahan sistem ejaan, yaitu :

1.      Ejaan Van Ophuysen
  Ejaan ini mulai berlaku sejak bahasa Indonesia lahir dalam awal tahun dua puluhan. Ejaan ini merupakan warisan dari bahasa Melayu yang menjadi dasari bahasa Indonesia.
2.      Ejaan Suwandi
Setelah ejaan Van Ophuysen diberlakukan, maka muncul ejaan yang menggantikan, yaitu ejaan Suwandi. Ejaan ini berlaku mulai tahun 1947 sampai tahun 1972.
3.      Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan imi mulai berlaku sejak tahun 1972 sampai sekarang. Ejaan ini merupakan penyempurnaan yang pernah berlaku di Indonesia.
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) diterapkan secara resmi mulai tanggal 17 Agustus 1972 dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia  Nomor : 57/1972 tentang peresmian berlakunya “Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”. Dengan berlakunya EYD, maka ketertiban dan keseragaman dalam penulisan bahasa Indonesia diharapkan dapat  terwujud dengan baik.






PERUBAHAN PEMAKAIAN HURUF
DALAM TIGA EJAAN BAHASA INDONESIA

Ejaan yang Disempurnakan (EYD)
(mulai 16 Agustus 1972)
Ejaan Republik
(Ejaan Soewandi)
1947-1972
Ejaan Ophuysen
(1901-1947)
Khusu
Jumat
Yakni
Chusus
Djum’at
Jakni
Choesoes
Djoem’at
Ja’ni



1.2      Tujuan
-          Memahami konsep EYD
-          Memahami huruf kapital dan huruf miring
-          Memahami tentang penulisan kata
-          Memahami tata cara dan letak dalam penggunaan tanda baca
-          memahami dan mengembangkan tulisan dengan tanda baca yang baik dan benar











BAB  II
PEMBAHASAN

2.1           Fungsi Huruf Kapital

Kaidah penulisan huruf besar dapat digunakan dalam beberapa hal, yaitu :
a)   Digunakan sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
 Misalnya : Dia menulis surat di kamar.
b)   Digunakan sebagai huruf pertama petikan langsung.
      Misalnya : Ayah bertanya, “Apakah mahasiswa sudah libur?”.
c)   Digunakan sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama
      Tuhan, kata ganti Tuhan, dan nama kitab suci.
      Misalnya : Allah Yang Maha kuasa lagi Maha penyayang.
d)   Digunakan sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan , keturunan, keagamaan
      yang diikuti nama orang.
      Misalnya : Raja Gowa adalah Sultan Hasanuddin.
e)   Digunakan sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama
      orang, pengganti nama orang tertentu, nama instansi, dan nama tempat.
      Misalnya : Wakil Presiden Yusuf  Kalla memberi bantuan mobil.
f)   Digunakan sebagai huruf pertama unsur nama orang.
      Misalnya : Dewi Rasdiana Jufri
g)   Digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan nama bahasa.
      Misalnya : bangsa Indonesia
h)   Digunakan sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa
      sejarah.
      Misalnya : tahun Hijriyah
i)   Digunakan sebagai huruf pertama nama geografi unsur nama diri.
      Misalnya : Asia Tenggara
j) Digunakan sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah,
       ketatanegaraan, dan nama dokumen resmi, kecuali terdapat kata penghubung.
      Misalnya : Republik Indonesia
k) Digunakan sebagai huruf pertama penunjuk kekerabatan atau sapaan dan pengacuan.
      Misalnya : Surat Saudara sudah saya terima.
l) Digunakan sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
      Misalnya : Surat Anda telah saya balas.
m) Digunakan sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat dan sapaan.
     Misalnya : Dr. -  doctor
n) Digunakan sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat
      pada nama badan lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
         Misalnya: Perserikatan Bangsa-Bangsa
o) Digunakan sebagai huruf pertama semua kata di dalam judul, majalah, surat kabar,  dan    karangan ilmiah lainnya, kecuali kata depan dan kata penghubung.
Misalnya : Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Pemakaian huruf
a.                Huruf Abjad
Sampai saat ini jumlah huruf abjad yang digunakan sebanyak 26 buah.
Abjad yang digunakan  dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf berikut.
Huruf
Nama
Huruf
Nama
Huruf
Nama
A             a
B             b
C             c
D            d
E             e
F             f
G            g
H            h
I              i
a
be
ce
de
e
ef
ge
ha
i
J              j
K            k
L             l
M            m
N            n
O            o
P             p
Q            q
R            r
je
ka
el
em
en
o
pe
ki
er
S             s
T             t
U            u
V             v
W            w
X             x
Y             y
Z             z
es
te
u
ve
we
eks
ye
zet







b. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u.
Huruf Vokal
Contoh pemakaian dalam kata
Di awal
Di tengah
Di akhir
A
e
i
o
u
api
enak
itu
oleh
ulang
padi
petak
simpan
kota
bumi
lusa
sore
murni
radio
ibu
c. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
Huruf konsonan
Contoh pemakaian dalam kata
Di awal
Di tengah
Di akhir
B
c
d
f
g
h
j
k
l
m
n
p
q
r
s
t
v
w
x
y
z
bahasa
cakap
dua
fakir
guna
hari
jalan
kami
lekas
maka
nama
pasang
Quran
raih
sampai
tali
varia
wanita
xenon
yakin
zeni
sebut
kaca
ada
kafan
tiga
saham
manja
paksa
alas
kami
anak
apa
Furqan
bara
asli
mata
lava
hawa
-
payung
lazim
adab
-
abad
maaf
balig
tuah
mikraj
politik
kesal
diam
daun
siap
-
putar
lemas
rapat
-
-
-
-
Juz
d. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.

Huruf Diftong
Contoh pemakaian dalam kata
Di awal
Di tengah
Di akhir
Ai
au
oi
ain
aula
-
syaitan
saudara
boikot
pandai
harimau
amboi





















2.2           Fungsi Huruf Miring

Huruf miring digunakan untuk :
2.2.1 Menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
    Misalnya : Buku Negarakertagama karangan Prapanca.

2.2.2 Menegaskan dan mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, dan kelompok kata.
    Misalnya :
-          Huruf pertama kata abad adalah a.
-          Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
-          Buatlah kalimat dengan kata lapang dada.

2.2.3 Menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing.
    Misalnya : Politik devideet et impera pernah merajalela di Indonesia



































2.3           Fungsi Tanda Baca

2.3.1 Tanda Titik (.)
a.
Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Misalnya: Ayahku tinggal di Solo.

Catatan:
Tanda titik tidak digunakan pada akhir kalimat yang unsur akhirnya sudah bertanda titik.

Misalnya: Buku itu disusun oleh Drs. Sudjatmiko, M.A.
b.
Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Misalnya :
1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan


c.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

Misalnya: pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35 menit, 20 detik)
d.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.

Misalnya: 1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
     0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
e.
Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.

Misalnya: Alwi, Hasan, dkk. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka.


f.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.

Misalnya: Desa itu berpenduduk 24.200 orang.

Catatan:
(1)
Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

Misalnya:
Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung..
(2)
Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.

Misalnya: Acara Kunjungan Menteri Pendidikan Nasional
(3)
Tanda titik tidak dipakai di belakang nama dan alamat penerima surat, nama dan alamat pengirim surat, dan di belakang tanggal surat.

Misalnya: Yth. Kepala Kantor Penempatan Tenaga






g.
Tanda titik dipakai pada penulisan singkatan
Misalnya : H. Hamid
2.3.2  Tanda Koma (,)
a.
Tanda koma dipakai di antara unsur unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

Misalnya: Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
b.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului dengan kata seperti tetapi, melainkan, sedangkan, dan kecuali.

Misalnya: Saya akan membeli buku-buku puisi, tetapi kau yang memilihnya.
c.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.

Misalnya: Kalau ada undangan, saya akan datang.

Catatan:
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya: Saya akan datang kalau ada undangan.
d.
Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun begitu.

Misalnya:


Meskipun begitu, dia tidak pernah berlaku sombong kepada siapapun.

e.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, dan kasihan, atau kata-kata yang digunakan sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Mas dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat.

Misalnya: Wah, bukan main!
f.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Misalnya: Kata Ibu, "Saya gembira sekali."
g.
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.

Misalnya: "Di mana Saudara tinggal?" tanya Pak Guru.
h.
Tanda koma dipakai di antara nama dan alamat, bagian bagian alamat, tempat dan tanggal, serta  nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya: Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor
i.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Misalnya: Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu Agung.

j.
Tanda koma dipakai di antara bagian bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.

Misalnya: Alisjahbana, S. Takdir, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 2  
                         (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.
k.
Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Misalnya: Ny. Khadijah, M.A.


l.
Tanda koma dipakai di muka angka desimal

Misalnya: 12,5 m


m.
Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.

Misalnya: Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.


n.
Tanda koma dapat dipakai–untuk menghindari salah baca/salah pengertian–di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Misalnya: Atas perhatian Saudara, kami ucapan terima kasih.
2.3.3 Tanda Titik Koma (;)
a.
Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk setara.

Misalnya: Ayah mengurus tanaman di kebun; Ibu menulis makalah di ruang kerjanya;
b.
Tanda titik koma digunakan untuk mengakhiri pernyataan perincian dalam kalimat yang berupa frasa atau kelompok kata. Dalam hubungan itu, sebelum perincian terakhir tidak perlu digunakan kata dan.

Misalnya:
Syarat syarat penerimaan pegawai negeri sipil di lembaga ini:
(1)
berkewarganegaraan Indonesia;
(2)
berijazah sarjana S1 sekurang-kurangnya;
c.
Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan dua kalimat setara atau lebih apabila unsur-unsur setiap bagian itu dipisah oleh tanda baca dan kata hubung.

Misalnya: Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaos; pisang, apel, 
                dan jeruk.
2.3.4 Tanda Titik Dua (:)
a.
Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti rangkaian atau pemerian.

Misalnya: Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

Catatan:
Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
b.
Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Misalnya: Ketua : Ahmad Wijaya





c.
Tanda titik dua dapat dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Misalnya:
Ibu
 :
"Bawa kopor ini, Nak!"
Amir
 :
"Baik, Bu."
d.
Tanda titik dua dipakai di antara jilid atau nomor dan halaman, bab dan ayat dalam kitab suci, judul dan anak judul suatu karangan, serta nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

Misalnya:
Horison, XLIII, No. 8/2008: 8
Surah Yasin: 9
2.3.5 Tanda Hubung (-)
a.
Tanda hubung menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian baris.

Misalnya: Di samping cara lama diterapkan juga ca-
     ra baru.
b.
Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata yang mengikutinya atau akhiran dengan bagian kata yang mendahuluinya pada pergantian baris.

Misalnya: Kini ada cara yang baru untuk meng-
                 ukur panas.
c.
Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.

Misalnya: anak-anak
d.
Tanda hubung digunakan untuk menyambung bagian-bagian tanggal dan huruf dalam kata yang dieja satu-satu.

Misalnya: 8-04-2008
e.
Tanda hubung dipakai untuk merangkai:
a.
se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
b.
ke- dengan angka,
c.
angka dengan -an,
d.
kata atau imbuhan dengan singkatan berhuruf kapital,
e.
kata ganti yang berbentuk imbuhan, dan
f.
gabungan kata yang merupakan kesatuan.

Misalnya:
se-Indonesia
peringkat ke-2
tahun 1950-an
hari-H
g.
Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

Misalnya: di-make-up

2.3.6 Tanda Pisah (–)
a.
Tanda pisah dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun utama kalimat.

Misalnya: Kemerdekaan itu—hak segala bangsa—harus dipertahankan.
b.
Tanda pisah dipakai untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

Misalnya: Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia–amanat Sumpah Pemuda–harus  
                 terus ditingkatkan.
c.
Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat dengan arti 'sampai dengan' atau 'sampai ke'.


    Misalnya: Tanggal 5–10 April 2008


2.3.7 Tanda Tanya (?)
a.
Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Misalnya: Kapan dia berangkat?
b.
Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Misalnya: Dia dilahirkan pada tahun 1963 (?).
2.3.8 Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun emosi yang kuat.
Misalnya: Alangkah indahnya taman laut ini!
                 Bersihkan kamar itu sekarang juga!
2.3.9 Tanda Elipsis (...)
a.
Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.

Misalnya: Kalau begitu ..., marilah kita laksanakan.
b.
Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.

Misalnya : Pengetahuan dan pengalaman kita ... masih sangat terbatas.

Catatan:
(1)
Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2)
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai 4 tanda titik: 3 tanda titik untuk menandai penghilangan teks dan 1 tanda titik untuk menandai akhir kalimat.


(3)
Tanda elipsis pada akhir kalimat tidak diikuti dengan spasi.

Misalnya:
Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan cermat ....
2.3.10 Tanda Petik (" ")
a.
Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.

Misalnya: Ibu berkata, "Paman berangkat besok pagi. "
b.
Tanda petik dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya: Sajak "Pahlawanku" terdapat pada halaman 5 buku itu.
c.
Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya: Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.

Catatan:
(1)
Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

Misalnya: Dia bertanya, "Apakah saya boleh ikut?"
(2)
Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

Misalnya:Karena warna kulitnya, dia mendapat julukan "Si Hitam".
(3)
Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
(4)
Tanda petik (") dapat digunakan sebagai pengganti idem atau sda. (sama dengan di atas) atau kelompok kata di atasnya dalam penyajian yang berbentuk daftar.

Misalnya:
zaman
bukan
jaman
asas
"
azas
plaza
"
plasa
jadwal
"
jadual
2.3.11 Tanda Petik Tunggal (' ')
a.
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat di dalam petikan lain.

Misalnya: Tanya dia, "Kaudengar bunyi 'kring kring' tadi?"
b.
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna kata atau ungkapan.

Misalnya:
terpandai
'paling' pandai
c.
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, kata atau ungkapan bahasa daerah atau bahasa asing

Misalnya:
feed-back
'balikan'


2.3.12 Tanda Kurung (( ))
a.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Misalnya: Anak itu tidak memiliki KTP (kartu tanda penduduk).


b.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.

Misalnya: Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di Bali)
                 ditulis pada tahun 1962.
c.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.

Misalnya: Pejalan kaki itu berasal dari (Kota) Surabaya.
d.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit angka atau huruf yang memerinci urutan keterangan.

Misalnya: Faktor produksi menyangkut masalah (a) bahan baku, (b) biaya produksi,
                 dan (c) tenaga kerja.




Catatan:
Tanda kurung tunggal dapat dipakai untuk mengiringi angka atau huruf yang menyatakan perincian yang disusun ke bawah.

Misalnya:
Kemarin kakak saya membeli
1)
buku,
2)
pensil, dan
3)
tas sekolah.
2.3.13 Tanda Kurung Siku ([ ])
a.
Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.

Misalnya: Ia memberikan uang [kepada] anaknya.
b.
Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.


2.3.14 Tanda Garis Miring (/)
a.
Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim atau tahun ajaran.

Misalnya: tahun ajaran 2008/2009
b.
Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap, dan ataupun.

Misalnya:
harganya Rp1.500,00/lembar
'harganya Rp1.500,00 tiap lembar'

Catatan:
Tanda garis miring ganda (//) dapat digunakan untuk membatasi penggalan-penggalan dalam kalimat untuk memudahkan pembacaan naskah.
2.3.15 Tanda Penyingkat atau Apostrof (')
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Dia 'kan sudah kusurati.
('kan = bukan)
Malam 'lah tiba.
('lah = telah)
1 Januari '08
('08 = 1988)





















2.4           Penulisan Kata

2.4.1    Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya : Buku itu sangat menarik
                  Ibu sangat mengharapkan keberhasilanmu
                  Dia bertemu kawannya di kantor pos

2.4.2    Kata imbuhan

2.4.2.1         Prefiks (awalan)
    1. Awalan ber-
        fungsi awalan ber- adalah membentuk kata kerja intransitive. Sedangkan  
        Makna yang diperoleh sebagai hasil pengimbuhan dengan awalan ber- antara
        lain :
        a. Untuk mendapatkan makna ‘mempunyai atau memiliki” awalan ber- harus
            diimbuhkan pada kata benda umum. (Contoh : Anak itu sudah tidak
             berayah lagi).
        b. Untuk mendapatkan makna “memaknai atau mengenakan” awalan ber-
            harus diimbuhkan pada kata benda yang menyatakan pakaian atau
            perhiasan.   
           (Contoh: Orang yang berdasi itu bukan paman saya).
        c. Untuk mendapatkan makna “berisi atau mengandung” awalan ber- harus
           diimbuhkan pada kata benda yang menyatakan zat. (Contoh : Bahan
           makanan ini cukup bergizi).

     2. Awalan PER
        Awalan PER mempunyai tiga macam bentuk, yaitu PER, PE, dan PEL.
        PER digunakan pada kata-kata yang tidak dimulai dengan konsonan r,
        seperti: peristri, percepat, dan perketat.
        PE digunakan pada kata-kata yang dimulai dengan konsonan r, seperti
        peringan dan perendah.
        PEl digunakan pada kata ajar, menjadi pelajar. Tidak ada contoh lain.
        Fungsi awalan PER adalah membentuk kata kerja perintah, yang dapat
        digunakan
       a) Kalimat perintah (Contoh: persingkat saja acaranya!)
       b) Kalimat yang predikatnya berbentuk : (aspek)+pelaku+kata kerja.
           (Contoh: penjagaan akan saya perketet nentimalam)
       c) Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berbentuk: yang+   
           aspek+pelaku+kata kerja.
          Contoh: saluran yang telah kami perdalam telah dangkal lagi.

     3. Awalan ME
        Awlan ME adalah imbuhan yang produktif, pengimbuhannya dilakukan
        dengan cara merangkaitkannya dimuka kata yang diimbuhinya. Awlan ME
        mempunyai enam macam bentuk yaitu: me, mem, men, meny, meng, dan
        menge.
        a). Me- digunakan pada kata-kata yang mulai dengan konsonan r, l, w. dan y;  
             serta  konsonan sengau m, n, ny, dan ng. umpamanya terdapat pada kata-
              kata.
             - merasa (me + rasa)
             - melihat (me + lihat)
     b). Mem-digunakan pada kata-kata yang dimulai dengan konsonan b,p, f, dan v
          umpamanya seperti terdapat dalam kata-kata:
          - membawa (mem + bawa)
          - memilih (mem + pilih)
     c). Men- digunakan dengan kata-kata yang dimulai dengan konsonan d dan t.
          konsonan d tetap diwujudkan; sedangkan konsonan t tidak diwujudkan,    
          melainkan disenyawakan dengan bunyi asal dari awalan itu. Contohnya
          seperti terdapat dalam kata-kata berikut:
          - mendengar (me + dengar)
          - menarik (me + tarik)
      4.Awalan di-
        Di- sebagai awalan dilafalkan dan dituliskan serangkai dengan kata yang
        diimbuhinya. Sedangkan di- sebagai kata depan dilafalkan dan dituliskan    
        terpisah dari kata yang mengikutinya.
        Contoh: Dia ditangkap polisi.(di- sebuah awalan)
                      Adik belajar di perpustakaan.(di- sebuah kata depan)
        Fungsi awalan di- adalah membentuk kata kerja pasif. Maka makna yang
        didapat sebagai hasil pengimbuhannya merupakan kebalikan dari makna kata
        kerja aktif transitif, yakni kata kerja berawalan me- yang transitif.

       5. Awalan PE-
           Fungsi awalan PE- adalah membentuk kata benda. Sedangkan makna yang
          didapat  sebagai hasil pengimbuhannya adalah:
          (a) orang yang melakukan atau yang berbuat
          (b) orang yang pekerjaannya
          (c) orang yang suka, gemar, atau acapkali melakukan
          (d) orang yang bersifat
          (e) alat untuk mengerjakan sesuatu
2.4.2.2              Sufiks (akhiran)
1.      Akhiran –kan
Fungsi akhiran –kan adalah membentuk kata kerja transitif, yang dapat digunakan dalam kalimat perintah.
Pembentukan kata dengan akhiran –kan akan memberikan makna sebagai berikut :
a. Untuk mendapatkan makna “sebabkan jadi” akhiran –kan harus diimbuhkan pada :
    1) Kata sifat
        Contoh : tenangkan dulu anak-anak itu!
    2) Kata kerja yang menyatakan keadaan
        Contoh : hubungan telepon telah mereka putuskan
    3) Beberapa kata benda yang memiliki sifat khusus
        Contoh : daerah itu harus kita hutankan kembali
b. Untuk mendapatkan makna “sebabkan jadi berada” akhiran –kan harus  
    diibuhkan pada kata benda yang menyatakan tempat.
    Contoh : Pinggirkan dulu mobil itu!
c. Untuk mendapatkan makna “lakukan…” akhiran –kan harus diimbuhkan
    pada kata kerja yang menyatakan tindakan.
    Contoh : Lemparkan bola itu kesini!
d. Untuk mendapatkan makna “lakukan untuk orang lain” akhiran -kan
    harus diimbuhkan pada kata kerja yang kata dasarnya sudah transitif.
    Contoh : Tolong ambilkan buku itu!
e. Untuk mendapatkan makna “bawa masuk ke…” akhiran –kan harus
    digunakan pada beberapa kata benda yang menyatakan ruang atau
     wadah.         
    Contoh : Asramakan saja anak-anak itu.

2. Akhiran –I
    a. Untuk mendapatkan makna berkali-kali akhiran –I harus diimbuhkan ada  
        kata kerja yang menyatakan tindakan.
        Contoh : Pencuri itu mereka pukuli sampai babak belur.
    b. Untuk mendapatkan makna “tempat” akhiran –I harus diimbuhkan pada
        kata kerja yang menyatakan tempat.
       Contoh : Jangan duduki kursi itu.
   c. Untuk mendapatkan makna “merasa sesuatu pada” akhiran –I harus
       diimbuhkan pada kata kerja yang menyatakan sikap batin.
       Contoh : Hormatilah gurumu!
   d. Untuk mendapatkan makna “memberi atau membubuhi” akhiran –I harus
       diimbuhkan pada kata benda yang menyatakan benda yang dapat
       diberikan.
       Contoh : Tolong nasihati anak-anak itu!
   e. Untuk menanyakan makna “menjadi atau menganggap“ akhiran –I harus
       diimbuhkan pada beberapa kata benda tertentu yang dikenal dengan sifat
       khasnya.
       Contoh : Jangan kalian budaki anak itu!
   f. Untuk mendapatkan makna “sebabkan jadi” akhiran –I harus dibubuhkan
       pada kata sifat.
       Contoh : Lengkapi dulu syarat-syaratnya!

3. Akhiran –AN
    Fungsi akhiran –AN adalah membentuk kata benda.
a.       Untuk mendapatkan makna “hasil” akhiran –AN harus digunakan pada kata kerja tertentu.
 Contoh : Tulisan adik sudah bagus.
b.      Untuk mendapatkan makna “alat” akhiran –AN harus diimbuhkan pada
beberapa kata kerja.
Contoh : Keranjangnya ada tetapi pikulannya tidak ada.
c.       Untuk mendapatkan makna “benda atau hal yang dikenal pekerjaan” akhiran  –AN harus diimbuhkan pada beberapa kata kerja.
Contoh : Makanan ini lezat sekali
d. Untuk mendapatkan makna “tempat” akhiran –AN harus diimbuhkan  
pada beberapa kata kerja.
Contoh : Di tengah sawah itu ada kubangan kerbau.
e. Untuk mendapatkan makna “tiap-tiap” akhiran –AN harus digunakan  
pada kata benda yang menyaakan waktu atau satuan ukuran.
Contoh : Majalah bulanan ini terbit di Jakarta.
f. Untuk mendapatkan makna :mengandung banyak hal yang disebut kata  
dasarnya” akhiran –AN harus diimbuhkan pada kata benda tertentu.   
Contoh : Ayah sudah ubanan
g. Untuk mendapatkan makna “himpunan bilangan atau jumlah” akhiran –
AN harus digunakan pada kata bilangan.
Contoh : Yang diundang banyak tetapi yang dating hanya belasan
                orang.
h. Untuk mendapatkan makna “bersifat yang disebut kata dasarnya”
akhiran –AN harus digunakan pada beberapa kata sifat.
Contoh : Dia tak mau membeli barang murahan

4. Akhiran -NYA
    Dalam bahasa Indonesia perlu diperhatikan adanya dua macam –nya.
    Pertama : -nya sebagai ganti orang ketiga tunggal yangberlaku objek atau   
                     pemilik. (Contoh : saya minta tolong kepadanya).
    Kedua    : -nya sebagai akhiran (Contoh : turunnya harga beras
                      menggembirakan rakyat).

    a. Untuk membentuk kata benda akhiran –nya harus diimbuhkan pada
        beberapa kata kerja yang menyatakan keadaan atau kata sifat.
       Contoh : Tenggelamnya kapal Tampomas banyak menelan korban.
    b. Untuk memberi penekanan pada bagian kalimat akhiran –nya harus
       diimbuhkan pada kata benda.
       Contoh : Saya ingin mandi, airnya tidak ada.
    c. Untuk membentuk kata keterangan akhiran –nya harus diimbuhkan pada
        beberapa kata tertentu.
        Contoh : Agaknya dia tidak akan datang.


2.4.2.3 Infiks (sisipan)
  
   Sisipan –EL, -EM, dan –ER.
   Sisipan ini tidak mempunyai variasi bentuk, dan ketiganya merupakan  
   imbuhan yang tidak produktif. Artinya tidak digunakan lagi untuk
   membentuk kata-kata baru. Pengimbuhannya dilakukan dengan cara  
   menyisipkan diantara konsonan dan volal suku pertama pada sebuah kata
   dasar.
   Arti yang yang dikandung oleh ketiga sisipan itu adalah:
   1. Menyatakan banyak dan bermacam- macam.
   2. Menyatakan intensitas.
   3. Menyatakan yang melakukan yang disebut kata dasar.

a). Untuk mendapatkan makna “bermacam-macam” sisipan ini harus
     diimbuhkan pada kata benda tertentu, contohnya yaitu: temali, gerigi, dsb.
b). Untuk mendapatkan makna “intensitas” sisipan ini harus diimbuhkan pada
       kata benda tertentu, contohnya seperti: gemetar, gemuruh, dll.
c). Untuk mendapatkan makna “yang melakukan” sisipan ini harus
     diimbuhkan pada kata kerja tertentu, contohnya seperti: pelatuk, telapak,
     dan telunjuk.


2.4.2.4  Konfiks (gabungan)
1.      Imbuhan Gabung ber-kan
Imbuhan gabung ber-kan adalah awalan ber- dan akhiran -kan yang secara bersama-sama digunakan pada sebuah kata dasar.
Cntoh: pemuda-pemuda pada waktu itu berani melawan belanda wlaupun
            hanya bersenjatakan bamboo runcing.
2.      Imbuhan gabung BER-AN
Fungsi imbuhan ini adalah membentuk kata kerja intransitive, sedangkan makna yang diperoleh sebagai proses pengimbuhannya adalah:
- Banyak serta tidak teratur
- Saling atau tidak berbalasan
- Saling berada di
Aturan pengimbuhan dengan imbuha BER-AN adalah sebagai berikut
a) Untuk mendapatkan makna “ banyak serta tidak teratur” imbuhan BER-
    AN harus diimbuhkan pada kata kerja yang menyatakan gerak.
    Contoh: mereka berlarian kesana –sini untuk menyelamaykan diri
b) Untuk mendapatkan makna “saling atau berbalasan”
    Contoh: kedua jalan itu berpotongan dibalik bukit itu,
c) Untuk mendapatkan makna “ saling berada” harus diimbuhkan pada
     beberapa kata kerja yang menyatakan letak atau jarak.
     Contoh: kami duduk bersebelahan didalam kereta pai itu.
3.  Imbuhan Gabung PER-kan
     a) Untuk mendapatkan makna “jadikan bahan” harus diimbuhkan pada
         kata kerja
         Contoh: jangan perdebatkan lagi masalah itu!
    b) Untuk mendapatkan makna “jadikan supaya” harus diimbuhkan pada
         kata sifat
        Contoh: bahan-bahannya akan segera kami persiapkan
    c) Untuk mendapatkan makna lakukan, harus diimbuhkan pada kata kerja
        Contoh: pertahankan benteg ini sekuat tenaga kalian
4.  Imbuhan gabung PER-I
     a) Untuk mendapatkan makana “supaya jadi” harus diimbuhkan pada kata
         sifat
         Contoh: mereka kami perlengkapi dengan alat-alat pertanian
     b) Untuk mendapatkan makana “lakukan yang disebut kata dasarnya pada
                objeknya” imbuhan gabung per-i harus diimbuhkan pada kata kerja
                tertentu
                Contoh: jangan kamu perturuti terus permintaannya
       5. imbuhan me- -kan
          Fungsi imbuhan gabung me- -kan adalah membentuk kata kerja aktif
          transitif.   
          Sedangkan makna yang didapat sebagai hasil pengimbuhannya, antara
          lain :
          a) Menyebabkan jadi yang disebut kata dasarnya
          b) Melakukuan sesuatu untuk orang lain
          c) Melakukan yang disebut bentuk dasar
          Untuk mendapatkan makna yang “menyebabkan jadi yang disebut kata
          dasarnya” imbuhan gabung me- -kan harus diimbuhkan pada:
          a. kata sifat
          contohnya: Pemerintah akan melebarkan jalan didepan sekolah kami.
       b. kata kerja yang menyatakan keadaan
          contohnya: Kapal perang Inggris dengan mudah menenggelamkan kapal
                            perang Argentina itu.
      c. kata benda yang mempunyai ciri khas
         contohnya: Kami akan membukukan hasil seminar itu.
      d. kata keterangan yang menyatakan derajat
         contohnya: Kami berhasil menyamakan kedudukan kami.
6. Imbuhan gabung me- - i
    Fungsi imbuhan gabung me- -i adalah membentuk kata kerja transitif aktif.      
    Sedangkan makna yang didapat sebagai hasil pengimbuhan, antara lain:
    a. membuat jadi yang disebut kata dasarnya pada
    b. memberi atau membubuhi pada
    c. melakukan pada
    d. melakukan berulang-ulang
    e. merasa pada
   
1) Uuntuk mendapatkan makna ‘membuat jadi yang yang disebut kata dasar pada objeknya’ imbuhan gabung me- -i harus digunakan pada kata sifat  Contoh: Bulan menerangi bumi.
2)  Untuk mendapatkan makna ‘memberi atau membubuhi yang disebut kata
        dasarnya pada objeknya’ imbuhan gabung me- -i harus diimbuhkan pada
        kata benda yang menyatakan zat, atau bahan.
         Contoh: Siapa yang menggarami laut?
    3) Untuk mendapatkan makna ‘melakukan atau berbuat sesuatu pada atau
        di’imbuhan gabung me- -i harus diimbuhkan pada kata kerja tertentu.
       Contoh: Mereka menanami halaman rumahnya dengan berbagai tanaman
                     hias.
    4) Untuk mendapatkan makna ‘melakukan berulang-ulang’ imbuhan gabung
        me- -i harus diimbuhkan pada kata kerja yang menyatakan tindakan.
       Contoh: Mereka memukuli pencuri itu sampai babak belur.
    5) Untuk mendapatkan makna ‘merasa sesuatu pada’ imbuhan gabung me- -i
        harus diimbuhkan pada kata kerja yang menyatakan emosi atau sikap batin.
       Contoh: Kami tidak menyukai sikap anak itu.
7. Imbuhan gabung memper-
    Fungsi imbuhan gabung memper- adalah membentuk kata kerja aktif transitif.    
    Sedangkan makna yang didapatkan sebagai hasil pengimbuhannya, antara lain
    a. membuat jadi lebih
    b. menjadikan atau menganggap sebagai

    1. untuk mendapatkan makna ‘membuat jadi lebih’ imbuhan gabung memper-
       harus diimbuhkan pada kata sifat.
       Contoh: Jalan layang dibuat untuk memperlancar lalu lintas.
    2. Untuk mendapatkan makna ‘menjadikan atau menganggap sebagai’
        imbuhan gabung memper- harus diimbuhkan pada kata benda tertentu.
       Contoh: Mereka memperbudak tawanan itu dengan sewenang-wenang.
8. Imbuhan gabung memper- -kan
    Fungsi imbuhan gabung memper- -kan adalah membentuk kata kerja aktif
    transitif. Sedangkan makna yang dimiliki sebagai hasil dari proses  
    pengimbuhannya, antara lain, menyatakan:
    a. menjadikan bahan
    b. menjadikan supaya
    c. melakukan per- -an
    d. menjadikan dapat di-
    e. menjadikan ber-

    1. Untuk mendapatkan makna ‘menjadikan sebagai bahan’ imbuhan gabung
       memper- -kan harus diimbuhkan pada kata kerja tertentu.
       Contoh:  Tidak baik mempermainkan orang tua seperti itu.
    2.Untuk mendapatkan makna ‘menjadikan supaya’ imbuhan gabung memper-
       - kan harus diimbuhkan pada kata sifat dan kata kerja yang menyatakan
       keadaan.
       Contoh: Saya ingin memperkenalkan kamu pada ayahku.
    3. Untuk mendapatkan makna ‘melakukan per- -an’ imbuhan memper- -kan
        harus diimbuhkan pada beberapa bentuk dasar yang memiliki kata benda
        berbentuk per- -an.
       Contoh: Trans 7 akan mempersembahkan kesenian daerah.
   4. Untuk mendapatkan makna ‘menjadikan dapat di…’ imbuhan memper- -
       kan harus diimbuhkan pada beberapa bentuk dasar kata kerja.
       Contoh: Saya akan memperlihatkan naskah aslinya.
   5. Untuk mendapatkan makna ‘menjadikan ber’ imbuhan memper- -kan
       harus diimbuhkan pada bentuk dasar yang memiliki kata kerja berbentuk
       ber-.
      Contoh: Janganlah kau mempersekutukan Tuhan.
9. Imbuhan gabung memper- -i
    Fungsi imbuhan gabung memper- -i adalah membentuk kata kerja aktif
    transitif,
    sedangkan makna yang didapat sebagai hasil proses pengimbuhan adalah:
    a. Untuk mendapat makna ‘membuat supaya objeknya menjadi atau menjadi
        lebih’ harus diimbuhkan pada beberapa kata sifat tertentu.
       Contoh: Saya akan memperbaiki dulu rumah itu.
    b. Untuk mendapatkan makna ‘melakukan yang disebut kata dasarnya pada
        objeknya’ imbuhan gabung memper- -i harus diimbuhkan pada kata kerja.     
       Contoh: Siapa yang harus memperturuti kata hatinya akan celaka.
10. Imbuhan gabung di- -kan
      Berfungsi membentuk kata kerja pasif, sebagai kebalikan dari kata kerja 
      aktif berimbuhan gabung me- -kan. Semua kata kerja aktif berimbuhan
      gabung di- kan adalah kata kerja transitif.
      Contoh kata kerja pasif berimbuhan di- -kan :
      - digunakan
      - disamakan
11. Imbuhan gabung di- -i
      Berfungsi membentuk kata kerja pasif, sebagai kebalikan dari kata kerja
      aktif  berimbuhan gabung me- -i.
      contoh kata kerja pasif berimbuhan gabung di- ( diawasi, ditemani)
12. Imbuhan gabung diper-
      Berfungsi membentuk kata kerja pasif, sebagai kebalikan dari kata kerja
      aktif transitif berimbuhan gabung memper-
      contoh kata kerja pasif berimbuhan gabung diper-
      - dipercepat
      - diperbesar
13. Imbuhan gabung diper- -kan
      Berfungsi membentuk kata kerja pasif, sebagai kebalikan dari kata kerja
      aktif.    
      Contoh kata kerja pasif berimbuhan gabung diper- -kan
      - dipergunakan
      - dipertemukan
     Sebagai kebalikan kata kerja aktif transitif berimbuhan gabung memper- -kan   
     contohnya:
     - penghitung (kata dasar: hitung)
     - penggali (kata dasar: gali)
     - pengambil (kata dasar : ambil)
14. Imbuhan Gabungan PE-AN
      a). Untuk mendapatkan makna ‘hal atau peristiwa’ imbuhan gabung PE-AN
           harus diimbuhkan pada kata kerja, kata benda, atau kata sifat tertentu
          Contoh : Pembinaan bahasa Indonesia perlu ditingkatkan.
     b). untuk mendapatkan makna ‘proses’ imbuhan gabung PE-AN harus
          diimbuhkan pada kata kerja, kata benda, atau kata sifat tertentu.
          Contoh : Pembayaran dilakukan bertahapa.
     c). Untuk mendapatkan makna ‘tempat’ imbuhan gabung PE-AN harus
         diimbuhkan pada kata kerja, kata benda, dan kata sifat tertentu.
         Contoh : Ayah bekerja di pelelangan ikan.
    d). Untuk mendapatkan makna ‘alat’ imbuhan gabung PE-AN harus
         dibutuhkan pada kata kerja tertentu.
        Contoh : Ibu membeli penggorengan baru.
15. Imbuhan Gabung PER- -AN
     a). Untuk mendapatkan makna “hal melakukan” imbuhan gabung PER- -AN  
          harus diimbuhkan pada kata kerja tertentu.
          Contoh: Perbaikan mobil ini membutuhkan waktu dua hari.
    b). Untuk mendapatkan makna”hal, tentang, masalah” imbuhan gabungan
         PER- -AN harus diimbuhkan pada kata benda yang menyatakan tempat.
         Contoh: Usaha perhotelan diindonesia cukup baik.
    c). Untuk mendapatkan makna “ Tempat kejadian”imbukan harus
         digabungkan pada kata kerja tertentu.
        Contoh: Rumah-rumah peristirahatan banyak terdapat didaerah itu.
   d). Untuk mendapatkan makna “ daerah, wilayah, dan kawasan”imbuhan harus
        diimbuhkan pada kata benda yang menyatakan tempat.
        Contoh : Mereka tinggal dipegunungan.




2.4.3    Kata Depan
Dalam tindak berbahasa, kata depan di, pada, dan dalam sering digunakan secara tidak tepat. Ketiga kata depan itu sering dikacaukan penggunaannya. Tempat yang seharusnya diisi dengan kata depan pada, misalnya, sering diisi dengan kata depan di; atau tempat yang seharusnya diisi oleh kata depan di sering pula diisi dengan kata depan dalam. Padahal, ketiga kata depan itu sebenarnya memunyai pengertian atau makna yang berbeda. Ketidaktepatan penggunaan kata depan itu dapat dilihat pada contoh kalimat berikut ini.
“Dalam dunia persepakbolaan Indonesia, pemain muda itu memunyai prospek yang bagus di masa yang akan datang”.
Pada kalimat di atas terdapat penggunaan pasangan kata  di masa. Kata masa, yang berarti 'saat', merupakan kata yang menyatakan waktu atau penunjuk waktu, sedangkan kata depan di merupakan kata depan yang menyatakan tempat, bukan penunjuk waktu. Dengan demikian, pengunaan pasangan kata di dan masa pada kelompok kata di masa tidak tepat. Kata depan yang tepat digunakan di depan kata masa adalah kata depan yang juga menyatakan waktu, yaitu kata depan pada, sehingga pasangan itu menjadi pada masa. Sejalan dengan itu, kalimat contoh tadi akan lebih tepat jika diperbaiki menjadi seperti berikut. “Dalam dunia persepakbolaan Indonesia, pemain muda itu memunyai prospek yang bagus pada masa yang akan datang”.
Kekeliruan yang serupa dengan pasangan kata di masa (yang seharusnya pada masa) juga terjadi pada kata-kata lain yang menyatakan waktu, seperti pasangan kata berikut ini.
di kesempatan ini -  pada kesempatan ini 
di hari Minggu - pada hari Minggu     
di tahun lalu - pada tahun lalu
di bulan Agustus - pada bulan Agustus
Bagaimana dengan kata depan di? Kata apa yang dapat dipasangkan dengan kata depan itu? Seperti telah dinyatakan di muka bahwa kata depan di merupakan kata depan yang menyatakan tempat. Oleh karena itu, kata yang dapat dipasangkan dengan kata depan itu pun harus kata yang menyatakan tempat, seperti di Semarang, di kantor, di radio, di televisi, di sekolah, di dalam, di luar, di atas, di samping, dan di antara.
Berbeda dengan kata depan di, kata depan dalam juga digunakan untuk menyatakan makna 'tempat', namun lebih khusus, yaitu 'tempat yang memiliki ruang', seperti peti, lemari, ruangan, kamar. Contoh (Barang itu tersimpan dalam peti).

2.4.4    Kata Majemuk
Kata majemuk adalah gabungan 2 kata atau lebih yang memiliki struktur tetap, tidak dapat di sisipi kata lain. Contohnya Meja makan, gabungan kata di atas termasuk contoh kata majemuk karena strukturnya tetap, tidak dapat diubah-ubah letaknya.
Makan meja (tidak logis). 
Selain itu, ciri lain dari kata majemuk adalah gabungan kata tersebut membentuk makna baru. Namun, makna baru tersebut masih dapat dirunut atau ditelusuri dari makna kata pembentuknya.
a)Rumah baru
b)Tono sakit
c)Rumah sakit

Secara gramatika (tata bahasa) makna yang terbentuk pada contoh (a) dan (b) sama dengan makna leksikal unsur pembentuknya. Gabungan kata di atas mempunyai makna “rumah (yang) baru” (a) dan “Tono (sedang) sakit.”
Berbeda halnya dengan gabungan kata pada contoh pertama (a) dan kedua (b), gabungan kata pada contoh kedua (c) secara gramatika makna yang terbentuk berbeda dari makna leksikal unsur pembentuknya.
Makna kata secara leksikal pada contoh kedua (c) adalah “rumah (yang/sedang) sakit.” Makna ini tidak logis, yaitu benda mati dapat merasakan sakit seperti halnya makhluk hidup (manusia). Namun, makna yang terbentuk dalam contoh (c) adalah “rumah tempat merawat orang sakit.” Inilah yang disebut dengan membentuk makna baru tetapi makna baru tersebut masih dapat ditelusuri dari makna kata pembentuknya. 
2.4.5    Kata Ganti
 Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan –nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya: Buku ini boleh kaubaca.
               Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
                       Rumahnya sedang diperbaiki.


Catatan:
 Kata kata ganti itu (-ku, -mu, dan -nya) dirangkaikan dengan tanda hubung apabila digabung dengan bentuk yang berupa singkatan atau kata yang diawali dengan huruf kapital.
Misalnya: KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku.

k.ganti orang pertama tunggal
saya
k.ganti orang pertama jamak
kami, kita
k.ganti orang kedua tunggal
anda
k.ganti orang kedua jamak
kalian
k.ganti orang ketiga tunggal
dia
k.ganti orang ketiga jamak
mereka

2.4.6    Kata Serapan
Bahasa Indonesia merupakan bahasa asing yang dinamis, yang selalu berkembang dari waktu ke waktu sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat pemakai dan penuturnya. Salah satu akibat dari sifat dinamis tersebut adalah masuknya berbagai unsur kebahasaan dari bahasa asing, baik yang berupa afiks (imbuhan, awalan, akhiran) maupun berupa kata. Inilah yang kemudian dikenal dengan Unsur Serapan.
Dalam perkembangannya bahasa Indonesia mengambil unsur atau kata dari bahasa lain, seperti bahaa daerah atau bahasa asing. Sudah banyak kosa kata dari bahasa asing dan daerah yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Terlebih dahulu kata-kata itu disesuaikan dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia, baik itu dalam hal pengucapan maupun penulisannya. Kata-kata sepeerti itulah yang dinamakan dengan Kata-Kata Serapan.

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka. Maksudnya ialah bahwa bahasa ini banyak menyerap kata-kata dari bahasa lainnya.

Asal Bahasa
Jumlah Kata
Arab
1.495 kata
Belanda
3.280 kata
Tionghoa
290 kata
Hindi
7 kata
Inggris
1.610 kata
Parsi
63 kata
Portugis
131 kata
Sanskerta-Jawa Kuna
677 kata
Tamil
83 kata
















Proses penyerapan itu dapat dipertimbangkan jika salah satu syarat dibawah ini terpenuhi, yaitu :

1. Istilah serapan yang dipilih cocok konotasinya
2. Istilah yang dipilih lebih singkat dibandingkan dengan terjemahan      Indonesianya
3. Istilah serapan yang dipilih dapat mempermudah tercapainya kesepakatan jika istilah Indonesia   terlalu banyak sinonimya

Kata Serapan Masuk Ke Dalam Bahasa Indonesia Dengan 4 Cara Yaitu :

1. Cara Adopsi
    Terjadi apabila pemakai bahasa mengambil bentuk dan makna kata asing itu secara keseluruhan.
Contoh : supermarket, plaza, mall

2. Cara Adaptasi
Terjadi apabila pemakai bahasa hanya mengambil makna kata asing itu, sedangkan ejaan atau penulisannya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia
Contoh :
Pluralization > pluralisasi
Acceptability > akseptabilitas

3. Penerjemahan
Terjadi apabila pemakai bahasa mengambil konsep yang terkandung dalam bahasa asing itu, kemudian kata tersebut dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia
Contohnya :
           Overlap > tumpang tindih
           Try out > uji coba


4. Kreasi
Terjadi apabila pemakai bahasa hanya mengambil konsep dasar yangada dalam bahasa Indonesia. Cara ini mirip dengan cara penerjemahan, akan tetapi memiliki perbedaan. Cara kreasi tidak menuntut bentuk fisik yang mirip seperti penerjemahan.
Boleh saja kata yang ada dalam bahasa aslinya ditulis dalam 2 atau 3 kata, sedangkan bahasa Indonesianya hanya satu kata saja.
Contoh :
Effective > berhasil guna
           Spare parts > suku cadang





2.5        Kata Ulang
Salah satu cara untuk menyatakan jamak dalam bahasa Indonesia adalah dengan mengulang kata dasarnya. Mobil-mobil adalah ungkapan jamak dari mobil, rumah-rumah adalah ungkapan jamak dari rumah, demikian seterusnya.
Jarang sekali bahasa besar di dunia ini yang menyatakan jamak dengan cara mengulang kata dasar. Dalam bahasa Inggris, secara umum untuk menyatakan jamak cukup dengan menambahkan huruf s atau es di akhir kata dasarnya. Agak mirip dengan bahasa Inggris, dalam bahasa Arab untuk menyatakan jamak umumnya dengan cara menyisipkan huruf tertentu di bagian tengah dan/atau di bagian akhir kata dasarnya.
Mungkin ada yang tidak sependapat, tetapi bahasa yang menggunakan kata ulang untuk menyatakan jamak terkesan sebagai bahasa yang belum berkembang dengan baik. Terkesan juga bahwa masyarakat pengguna bahasa tersebut kurang kreatif dalam mencari pola lain dalam membentuk kata jamak.
Masalah lain adalah bahwa kata ulang untuk menyatakan jamak cenderung lebih boros penggunaan huruf dibandingkan dengan hanya memodifikasi kata dasar seperti pola yand ada dalam bahasa Inggris atau bahasa Arab.
Pemborosan ini tampaknya masalah sepele, tapi kalau kita mencoba melihat secara kumulatif banyaknya ruangan, tenaga dan waktu yang terbuang, sesungguhnya ini tidak sesepele yang dibayangkan. Apalagi pemborosan itu sebetulnya dapat dicegah dengan niat dan sedikit usaha untuk menemukan jalan keluarnya.
Dalam bahasa Indonesia, untuk beberapa kata sebetulnya sudah ada bentuk kata ulang yang hemat huruf. Coba perhatikan kata pepohonan yang dapat menjadi pengganti kata pohon-pohonan. Dalam contoh tersebut, dua huruf (pe) dapat menggantikan lima huruf (pohon). Perhatikan juga kata rerumputan yang dapat menjadi pengganti kata rumput-rumputan. Dua huruf (re) dapat menggantikan enam huruf (rumput). Bahkan kata laki-laki pun sudah lumrah diganti dengan lelaki.
Lalu mengapa kita tidak mencoba menggunakan pola tersebut untuk kata ulang yang lain? Rerumah untuk rumah-rumah, memobil untuk mobil-mobil, bebaju untuk baju-baju, gegunung untuk gunung-gunung, dan seterusnya. Rumus untuk tambahan dua huruf di awal kata juga sudah terlihat dengan jelas, yaitu huruf pertama kata dasar ditambah dengan huruf e.
Itu kalau huruf pertama kata dasar adalah konsonan, lalu bagaimana jika huruf pertama kata dasar adalah huruf vokal?
Seorang ahli bahasa telah mencoba mencari pola yang sudah ada dalam bahasa Indonesia dan menemukan satu kata ulang yang diawali dengan huruf vokal yang cocok sebagai contoh pola, yaitu alang-alang. Dalam banyak ungkapan alang-alang sudah sering diganti dengan ilalang. Walaupun alang-alang itu sebetulnya bukan kata ulang, namun mungkin pola ini dapat juga digunakan untuk kata ulang yang diawali dengan huruf vokal. Jadi orang-orang menjadi irorang, atap-atap menjadi itatap, ayam-ayam menjadi iyayam, dan seterusnya. Rumus umum untuk dua huruf awalannya adalah huruf i ditambah dengan huruf kedua dari kata dasar.
Kata ulang dalam bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi untuk menunjukkan jamak, tapi juga berfungsi antara lain :
- Menyatakan benda yang menyerupai kata dasar itu. Misalnya: anak-anakan, orang-orangan.
- Menyatakan bahwa pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang atau beberapa kali. Misalnya: meloncat-loncat, menyebut-nyebut.
- Menyatakan makna lebih (intensitas). Misalnya: cepat-cepat, baik-baik.
Macam-Macam Kata Ulang
2.5.1 Kata Ulang Dwipurwa
yaitu ulangan atas  suku kata awal. Vokal dari suku kata awal mengalami pelemahan dan bergeser ke posisi tengah menjadi e pepet.
contoh:
tatanaman    >  tetanaman
tatangga       >  tetangga
luluhur          >  leluhur
lalaki            >  lelaki
luluasa          >  leluasa
titirah            >  tetirah

2.5.2  Kata Ulang Utuh
yaitu ulangan atas seluruh bentuk dasar.
Kata ulang utuh terbagi 2:
a. kata ulang dwilingga, ulangan atas bentuk dasar yang berupa kata dasar.
misalnya:
rumah-rumah
buah-buah
anak-anak

b. kata ulang kata jadian berimbuhan,  yaitu ulangan atas bentuk dasar berupa kata jadian berimbuhan
misalnya:
perbuatan > perbuatan-perbuatan
timbangan > timbangan-timbangan
pengumuman > pengumuman-pengumuman

2.5.3 Kata Ulang Dwilingga Salin Suara
yaitu ulangan yang terjadi atas seluruh suku kata, namun pada salah satu lingganya terjadi perubahan suara pada satu fonem atau lebih.
Contoh:
gerak-gerak > gerak-gerik
sayur-sayur > sayur-mayur
porak-porak > porak-parik
tegap-tegap > tegap-begap



2.5.4 Kata Ulang Berimbuhan
yaitu ulangan yang mendapat imbuhan baik pada lingga pertama maupun pada lingga kedua.
Misalnya:
bermain-main
berjalan-jalan
berpukul-pukulan
gunung-gemunung
tarik-menarik

















BAB III
PENUTUP

Simpulan
Pada dasarnya kita telah memahami penggunaan kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, akan tetapi ketika kita berbicara seringkali kita tidak mengikuti kaidah/aturan dari tata bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam berkomunikasi sehari-hari. kita sering menggunakan tata bahasa yang salah, sehingga bermula dari kesalahan-kesalahan tersebut dapat menjadi sebuah kebiasaan dan hal tersebut menjadi membudaya dan dibenarkan penggunaan dalam keseharian. Untuk itu sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk saling mengingatkan agar menggunakan kaidah tata bahasa yang baik dan benar.

















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar